, ,

Pria Jakbar Tewas Usai Alat Kelamin Dipotong Istri

oleh -992 Dilihat

Sibolga – Pria Jakbar Tewas Suasana di sebuah gang padat penduduk di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, mendadak mencekam. Seorang pria ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya sendiri, setelah diduga alat kelaminnya dipotong oleh sang istri.

Peristiwa yang terjadi pada dini hari itu sontak mengejutkan warga sekitar. Mereka tak menyangka bahwa pasangan yang selama ini tampak seperti keluarga biasa, ternyata menyimpan konflik rumah tangga yang membara di balik pintu tertutup.


Kronologi: Pertengkaran Panas Berujung Petaka

Menurut keterangan polisi, insiden tragis ini berawal dari pertengkaran hebat antara pasangan suami-istri tersebut. Warga mengaku sempat mendengar suara bentakan dan teriakan dari dalam rumah, namun mengira itu hanya cekcok biasa.

Namun, pagi harinya, sang suami — berinisial DA (38) — ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Ia kehilangan banyak darah akibat luka parah di bagian genital, dan nyawanya tak tertolong meski sempat dibawa ke rumah sakit.


Istri Diamankan, Polisi Dalami Motif

Sang istri, berinisial NH (35), langsung diamankan oleh pihak berwajib. Dalam pemeriksaan awal, NH mengaku nekat melakukan aksi keji itu karena merasa sakit hati dan tersulut emosi, setelah bertahun-tahun diduga mengalami kekerasan verbal dan fisik dari suaminya.

“Pelaku mengaku tidak berniat membunuh, tapi ingin memberi pelajaran. Namun tindakan itu justru menyebabkan pendarahan hebat hingga korban meninggal,” ungkap Kapolsek Cengkareng, Kompol Dimas Adityo.

Pria Jakbar Tewas
Pria Jakbar Tewas

Baca Juga : 5 Kuliner Enak di Gombong Kebumen yang Wajib Dinikmati Wisatawan

Polisi masih menyelidiki lebih lanjut apakah ada faktor lain seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang memicu aksi balas dendam tersebut.


Psikolog: Ini Ledakan Emosi yang Sudah Terpendam Lama

Menurut psikolog keluarga, dr. Kartika Maharani, kasus seperti ini bukan semata kekerasan spontan, melainkan bisa jadi bentuk ledakan emosional dari trauma yang terus menumpuk.

“Ketika seseorang merasa tertekan dalam relasi yang toksik, dan tak punya saluran untuk bicara atau meminta tolong, maka potensi kekerasan justru bisa meledak dari pihak yang terlihat ‘lemah’,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sistem pendukung bagi korban KDRT di Indonesia masih belum kuat, sehingga banyak kasus tak terdeteksi sebelum terlambat.


Warga: Mereka Tampak Baik-Baik Saja

Tetangga korban mengaku shock dengan kejadian ini. Keseharian pasangan itu dinilai biasa, meski beberapa warga memang pernah mendengar pertengkaran kecil.

“Kadang ribut, tapi ya namanya rumah tangga. Nggak nyangka bisa sampai segitunya,” ujar Bu Lilis, tetangga sebelah rumah.


Penutup: Luka yang Tak Terlihat Bisa Jadi Paling Berbahaya

Kejadian ini menjadi peringatan serius akan pentingnya komunikasi dalam rumah tangga, serta pentingnya akses terhadap bantuan saat konflik mulai tak sehat. Tak semua luka terlihat di permukaan. Kadang, yang tak terdengar justru bisa berakhir paling fatal.

Hukum akan menilai dari sisi pidana. Tapi masyarakat perlu belajar satu hal: jangan abaikan tanda-tanda bahaya dalam relasi pribadi. Karena jika dibiarkan, luka batin bisa berubah jadi tragedi berdarah.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.